Pengantar Saja

Kalau kamu tidak lebih baik daripada saya lebih baik kamu tidak usah lahir, dan saya tidak usah mati!....read more

Mengapa harus menulis?

apakah ketika kita menulis harus memiliki sebuah literature. Ide itu seringkali muncul, namun tidak dapat menuliskannya dan berhenti hanya di satu paragraf.....read more

Negara yang Beragama atau Manusia yang Beragama?

Ada Suatu kaum yang hidup tenang, tentram dan harmonis di antara warganya. Pola hidup mereka sangat sederhana atau bisa dikatakan masih primitif, tapi itu tidak penting....read more

Mereka tak Merasakan Bahagia?

apakah benar burung di langit yang bebas terbang kemana pun juga dapat merasakan bahagia?read more


.:: SELAMAT DATANG DI BLOG GENCAR ::.
Tampilkan postingan dengan label Margin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Margin. Tampilkan semua postingan

Skripsi, Tesis dan Disertasi [Sebuah Metodologi Penelitian]

Jumat, 27 September 2013
Dalam tradisi keilmuan di perguruan tinggi [universitas, sekolah tinggi, akademi, insitut] -sebut saja di Indonesia, gelar intelektual kesarjanaan [Sarjana, Magister, Doktor] bertolak pada evaluasi akhir perkuliahan dalam penyusunan laporan ilmiah. Laporan ilmiah merupakan tugas akhir akademik, saat mahasiswa melakukan penyusunan pengetahuan secara metodologis. Tugas akhir ini jamak disebut sebagai penelitian, baik dalam bentuknya skripsi untuk tingkat strata 1, tesis untuk strata 2, dan disertasi untuk strata 3. Menjadi penting, mengetahui apa makna pada masing-masing bentuk penelitian itu. Ini nantinya, bagaimana kapasitas dan/atau kemampuan intelektualitas keilmuan sejalan makna dibalik tugas akhir untuk menyandang gelar keilmuan tersebut.

Skripsi -termasuk juga Tesis dan Disertasi mengedepankan tradisi metodologis menyusun pengetahuan sehingga nantinya tidak menjadi sebatas pengetahuan. Jika ketiganya adalah sama sebagai penelitian, lalu apa bergenginya masing-masing dari gelar yang di peroleh dari masing-masing bentuk tugas akhir penelitian itu. Idealnya memang, bukan berhenti untuk menjawab tujuan dari penulisan untuk peroleh gelar sarjana, magister, maupun doktor. Melainkan tanggung jawab inteletual akademis dalam proses ber-Skripsi, ber-Tesis dan ber-Disertasi . . . 

Selanjutnya, kami akan menyusun kerangka wacana masing-masing dari Sripsi, Tesis dan Disertasi . . .

[Bersambung]

tulisan lain dari penulis dapat di baca disini

LOGIKA BINER

Sabtu, 21 September 2013
Gambaran sederhana logika biner adalah satu ketegasan simbolis akan benar yang di operasionalkan dengan 1 dan salah dengan operasional 0. Logika biner akan dapat berkerja dengan baik untuk operasi logis yang tegas., seperti apakah dia laki-laki? tanda yang tegas bagi laki-laki dan perempuan akan menegaskan pula jawaban logis biner, yaitu 1 atau 0. akan menjadi lain ceritanya jika sesuatu yang di logikakan adalah sesuatu yang tidak tegas, sehingga dapat meemungkinkan jawaban 1 dan 0 sekaligus. 

Malam itu kami [penulis] dengan beberapa teman duduk di pinggiran kali ketabang Surabaya, membicarakan

Ritual Menulis

Sabtu, 31 Agustus 2013
“. . . dan apakah ketika kita menulis harus memiliki sebuah literature. Ide itu seringkali muncul, namun tidak dapat menuliskannya dan berhenti hanya di satu paragraf. Saya ingin menulis, bahkan sangat ingin tapi harus memulai darimana, haruskah memulainya dari membaca sebuah buku sampai tuntas. Berapa literatur yang setidaknya saya baca . . ."
Kalimat diatas adalah suara seseorang yang memiliki keinginan untuk dapat menuliskan setiap ide yang dapat ribuan kali muncul setiap harinya, namun demikian selalu saja hilang sejalan dengan waktu memikirkan bagaimana memulai untuk menuliskan ide itu pada secarik kertas ataupun pada tut keyboard.......

Retorika Kematian

Jumat, 30 Agustus 2013
Kemana perginya nyawa ketika kematian datang? Kemana perginya kehidupan, setelah jasad terbujur sendiri?. Pertanyaan ini ketika aku duduk di pemakaman leluhur genetisku (buyut) yang beberapa waktu lalu, katakanlah meninggal. Entah kenapa, ada kesedihan disana, atau ini sebatas pada ketakutanku bahwa semakin dekatnya kematian datang pada generasi selanjutnya.

Kematian adalah hak dan tingkah polah dalam diri manusia sendiri. ketika tubuh telah tidak mampu menyokong kehidupan, maka perlahan kehidupan akan pergi. Nyawa sebagai pengangkut kehidupan-pun perlahan akan lenyap. Kehidupan adalah ketika daya hidup itu bersemayam dalam wujud jasad, namun ketika wujud jasad telah tidak mampu menanggung daya hidup, maka daya hidup akan kembali pada asalnya “hidup”. Inilah masdarnya “inna lillahi wa inna ilaihi roijiuun”.

juga di posting melalui gwMedia [15/10/2012]